puisi

Tangisan Tragis di Bulan Maret
Air mata berjatuhan bagai hujan di bulan Maret ketika seorang bayi perempuan bernama Mariani Nazea Ngampu lahir di hari kedua - anugerah dari atas. Cerah seperti bintang, namanya berarti sumber cahaya, dia membawa kegembiraan bagi semua orang. Di tengah kesedihan, kedatangannya adalah secercah harapan, bersinar menembus kegelapan.

Di tengah keheningan malam, tangisannya menggema hingga ke dinding rumah sakit, memenuhi udara dengan janji awal yang baru. Para perawat membisikkan kata-kata penyemangat saat mereka merawat bayi baru lahir yang berharga, membungkusnya dengan selimut lembut yang ditenun dengan cinta.

Saat matahari terbit di hari yang menentukan itu, Mariani membuka matanya untuk pertama kalinya, menatap dunia dengan rasa takjub dan polos. Tangan kecilnya terulur, menggenggam hangatnya sentuhan ibunya, merasakan ikatan yang tak akan pernah putus.

Di tahun-tahun mendatang, Mariani akan tumbuh menjadi remaja putri yang kuat dan penuh kasih sayang, menyebarkan kebaikan ke mana pun dia pergi. Tawanya akan terdengar seperti lonceng ditiup angin, membawa senyuman bagi semua orang yang mendengarnya. Meskipun ia menghadapi tantangan dalam perjalanannya, cahayanya tidak pernah redup, menyala terang di hati orang-orang yang mencintainya.

Oleh karena itu, seruan tragis di bulan Maret menjadi sebuah kisah tentang harapan dan ketangguhan, sebuah pengingat bahwa bahkan di saat-saat tergelap sekalipun, selalu ada secercah cahaya yang membimbing kita melewatinya. Dan ketika Mariani Nazea Ngampu bertumbuh menjadi sosok yang ia inginkan, dunia menjadi sedikit lebih cerah, sedikit lebih ramah, semua karena seorang bayi perempuan yang lahir pada hari kedua bulan Maret.

Postingan populer dari blog ini

Kesibukan mahasiswa semester 7

Natal di paroki Tritunggal maha Kudus ranggu